Sejarah Desa Tosaren Kediri, Sumber Bulus
Sejarah Desa Tosaren Kediri, Sumber Bulus
Bima Adi Putra N.
Saat memasuki kawasan, tidak terasa sesuatu yang istimewa. Untuk masuk ke dalam gang, pengunjung harus berjalan sekitar 100 meter. Di samping kanan kiri jalan tidak terlihat rumah warga. Ada beberapa bangunan yang lebih menyerupai pasar, namun kondisinya manngkrak. Selebihnya adalah lahan terbuka.
Sejak masuk gang deretan pepohonan raksasa sudah menyambut. Setelah melewati jalan menurun, sumber air sudah terlihat. Antara sendang dan jalanan hanya dibatasi aliran sungai, pembatas tanggul dan tembok setinggi dada. Dari warna biru tembok yang menyala menunjukkan bangunan itu belum lama berdiri.
“sudah 3 tahun lalu selesai dibangun pemerintah,” terang Mulud Muhadi, juru kunci Sumber Bulus. Perwakilan Pemerintah Kota Kediri sudah beberapa kali bertandang ke Sumber Bulus untuk melihat-lihat lokasi sumber. Meski begitu, belum banyak “sentuhan” yang berarti.
Walau begitu keberadaan pembatas tembok sudah membuat Mulud sangat bersyukur. “Akhirnya mendapat perhatian juga,” katanya ketika ditemui di kediamannya yang berada tidak jauh dari lokasi sumber.
Mulud sempat mendengar meluasnya penyebaran sumber daya. Yakni dengan memanfaatkan tanah bengkok pemkot yang tepat di sisi sumber selatan. Namun hingga saat ini belum terealisasi.
Sumber Bulus memiliki luas 700 meter persegi. Lokasinya memanjang ke timur dengan topologi dataran yang menanjak. Tepat dipuncak tumbuh beringin besar yang sebagian warga biasa menggunakannya untuk berdoa.
Di dekat lokasi berdiri bilik sederhana yang menurut Mulud biasa digunakan untuk tirakat. “ Arang kading jumlahnya. Tapi selalu ada yang datang ke sini terutama kalau pas Suroan , ”tambah pria yang sudah 34 menjadi juru kunci tersebut.
Selain kesegaran udara sendang dan rindang pepohonan tidak sedikit yang menganggap Sumber Bulus keramat. Banyak pengunjung dari daerah sekitar Kediri yang datang untuk berdoa atau menggelar selamatan. Ada juga yang datang dengan hajat mencari pengobatan.
Dari cerita getok tular nama “Bulus” lahir dari legenda yang dipercaya. Syahdan Panji Asmorobangun yang saat mengembara menemukan sebuah mata air (sumber). Di tempat itu Pangeran Inu Kertapati itu melompat dengan penunggu sumber yang berwujud bulus (kura-kura) berwarna putih.
Dengan kesaktiannya Bulus itu memiliki kemampuan muncul dan menghilang tiba-tiba. Seiring berjalannya waktu, menurut Mulud, penunggu itu berganti Sekar Ronce. Soal itu dan apa yang diatur dengan Bulus Putih, dia mengaku tidak tahu.
Para peziarah saat berdoa kerap menyebut nama Sekar Ronce. Sementara sebagai juru kunci Mulud mengaku tidak pernah melompati penampakan Sekar Ronce. Salah satu pengalaman spiritual yang ia alami adalah mendengar suara gemuruh di salah satu pohon besar.
“Padahal saat itu tidak ada angin sama sekali,” bebernya. Pengalaman lain, Mulud pernah melihat sosok yang tengah berendam di dalam sendang. Padahal saat itu ia memastikan sudah tidak ada pengunjung. “Ya hanya itu saja. Selebihnya aman tidak ada apa-apa, ”urai pria sepuh tersebut.
Bagi anak anak, terutama lingkungan Tosaren, sumber itu menjadi tempat bermain yang menarik. Tidak sedikit yang bermain dan berenang di sana. Pagi hari untuk anak-anak lingkungan Tosaren. Sore hari baru untuk anak-anak dari luar lingkungan.
“Kita bedakan, kalau orang sini mandi nggak bayar. Tapi kalau dari luar kita mengenakan iuran tapi seikhlasnya untuk biaya perawatan sumber, ”beber kakek 72 tahun tersebut.
Mulud sendiri adalah juru kunci gerenasi keempat. Ia meneruskan jejak kakaknya yang sebelumnya memanggul tugas yang sama. Kegiatan rutinnya adalah menyapu areal sumber agar selalu terjaga kebersihannya. Sesekali ia juga memperbaiki bagian-bagian sumber yang rusak.
Untuk penjagaan, Mulud mendapat bantuan warga sekitar. Agar tidak disalahgunakan, ia dikenakan aturan kepada pengunjung umum, terutama muda-mudi, berada di areal sumber mulai pukul 17.00 WIB.
“Kecuali untuk peziarah biasanya lapor dan minta izin dulu di sini jadi kita semua tahu siapa saja yang sedang berkunjung ke sumber,” pungkasnya.
Kediri, 16 Oktober 2024
Komentar
Posting Komentar